Rabu, 02 September 2009

Earthquake Center in Tasikmalaya, Strength 7.3 SR

An earthquake with the power of 'big enough' has just happened and felt by citizens in a number of places on the island of Java. In Jakarta, an earthquake measuring 7.3 Richter scale shook the citizens of the capital. According to the meteorology and Geophysics Agency America (USGS) located the epicenter in Tasikmalaya. According to the USGS, the earthquake shocks had occurred 32 times. The shock of this earthquake made a number of people panicked and ran out of the house, on Wednesday (2 / 9) at 14:55. Telephone number of dead, and reportedly some of the glass-rise buildings in Jakarta broke, this happens at Hotel Atlet Century, Jakarta.
While in Tasikmalaya, residents had screamed and panicked and lafad name of God a number of citizens who drive for a moment silent. Residents who are in the market Pancasila Tasikmalaya City residents who are in the market berkatifitas all out and the name of God. While a very strong vibration lasted about five minutes. According to reports in the field several buildings in the town of Ciamis collapsed because of this earthquake shocks.
The earthquake was also felt in the city of Bandung, West Java; South Tangerang city in the southern part of the office even Suara Merdeka CyberNews Editors Semarang, Central Java, some of the staff and employees who have offices Jl. Pandanaran had felt the earthquake shaking for several minutes with enough vibration can be felt for some time. According to some staff, they could feel the table and chairs in their office swayed.
According to the USGS epicenter was 142 kilometers southwest of Tasikmalaya with a depth of 37.3 miles below the surface in the Tasikmalaya district, and this earthquake is estimated to potential tsunamis.
Selanjutnya - Earthquake Center in Tasikmalaya, Strength 7.3 SR

Selasa, 01 September 2009

17 Titik Rawan Macet di Brebes

BREBES- Sebanyak 17 titik di Kabupaten Brebes menjadi daerah rawan macet saat arus mudik dan balik Lebaran tahun 2009. Daerah itu tersebar merata di jalur pantura, tengah dan selatan.

Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Pemkab Brebes, Suprapto SH mengatakan, di jalur pantura terdapat sebanyak enam titik rawan macet.

Sedangkan, di jalur tengah empat titik dan jalur selatan tujuh titik. ”Di pantura dan tengah rata-rata titik rawan macet di pasar tumpah dan persimpangan jalan. Sementara di jalur selatan, selain di pasar tumpah juga di perlintasan KA dan jalan menanjak,” terangnya.

Menurut dia, penyebab utama munculnya titik rawan macet itu di antaranya, karena kegiatan perdagangan yang memakan satu lajur jalan. Lalu lintas kendaraan lokal dan penyeberang jalan pada pusat kegiatan ekonomi, serta parkir di badan jalan (on street parking) pada beberapa ruas jalan utama sehingga mengurangi kapasitas jalan. Potensi kemacetan juga muncul karena adanya perbaikan ruas jalan dan laju kendaraan yang melambat pada jalan menanjak. ”Untuk mengatasi, titik rawan macet ini beberapa upaya telah kami siapkan saat arus mudik dan balik Lebaran,” katanya.

Dia menjelaskan, sedikitnya ada enam langkah yang akan ditempuh untuk mengantisipasi titik rawan macet tersebut. Di antaranya, pengalihan arus untuk mengurangi pembebanan jalur melalui sistem buka tutup, menyalakan kedip kuning pada setiap traffic light dan mengalihkan titik konfik simpang dengan menyiapkan lokasi balik arah. Langkah itu seperti yang diterapkan di simpang tiga Tanjung dan simpang tiga Pejagan.

Di samping itu, lanjut dia, pihaknya akan membagi lajur lalu lintas atau split arah menjadi 70% - 30% dengan menerapkan pola lajur 3-1 untuk dua arah. Kemudian, pemasangan rambu portable, barikade, dan traffic cone. ”Kami juga akan menempatkan personel pengamanan di titik rawan kemacetan. Kami harapkan melalui upaya ini titik rawan macet bisa tertangani dan laju kendaraan pemudik tetap lancar,” paparnya. (Suara Merdeka)
Selanjutnya - 17 Titik Rawan Macet di Brebes

Tanpa Antasari KPK Lebih Galak

JAKARTA - Saat Antasari Azhar sudah tidak aktif lagi memimpin Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), justru lembaga itu lebih cepat mengungkap sejumlah kasus korupsi. Wakil Ketua KPK Moh Jasin menyebutkan, KPK sama sekali tidak terpengaruh oleh 'hilangnya' Ketua KPK itu. Ditegaskan, KPK bergerak tidak dipengaruhi oleh personil pimpinannya, melainkan oleh sistem yang dibangun sejak KPK berdiri di era kepemimpinan Taufiequrahman Ruki.
"Kita bangun sistem ini sejak awal sebagai sebuah organisasi yang profesional, akuntabel, dan berintegritas. Sudah kita buktikan (non aktifnya antasari, red) tidak ada pengaruhnya. Kita membangun dengan sistem di lembaga ini. Sejak Antasari ditahan sudah ada 23 kasus yang kita angkat ke tahap penyidikan," ungkap M Jasin kepada wartawan di gedung KPK, Jakarta, Senin (31/8).

Hanya saja, Jasin enggan berkomentar saat dimintai tanggapan mengenai siapa kiranya yang layak mengganti Antasari, yang dalam waktu dekat pasti diberhentikan secara permanen lantaran berstatus terdakwa. "Kalau soal itu, saya katakan itu presiden yang punya gawe," ucapnya.

Beberapa saat sebelumnya, sejumlah aktifis Indonesia Corruption Watch (ICW) di gedung KPK juga mengatakan, kinerja KPK justru naik secara signifikan setelah Antasari berada di tahanan. Dalam catatan ICW, selama Antasari tidak aktif di KPK, sudah ada 15 orang yang ditetapkan sebagai tersangka.

Antara lain General Manager PLN Distribusi Jawa Timur Hariadi Sadono, Mantan Dirut Bank Jabar Umar Syarifuddin, mantan Bupati Natuna Hamid Rizal, Bupati Natuna Daeng Rusnadi, anggota DPR Hamka Yandu, anggota BPK Udju Djuhaeri, dan anggota DPR Dedhie Makmun Murod. Selain itu, beberapa anggota DPR yakni Endin AJ Soehfihara, Azwar Ches Putra, Hilman Indra, dan Fahri Andi Laluasa.

Mantan Menkes Sujudi juga ditahan setelah Antasari non aktif. Selain itu ada juga Kabiro Hukum DKI Jakarta J Effendi Simbolon, Dirut PT Masaro Anggoro Wijoyo juga ditetapkan menjadi tersangka, serta mantan Dirut PT PGN Washington Mampe Parulian. (JPNN)
Selanjutnya - Tanpa Antasari KPK Lebih Galak

Presiden Resmikan Diorama Sejarah

JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meresmikan Diorama (pameran arsip) sejarah perjalanan bangsa. Dalam acara di kantor Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), SBY sekaligus mencanangkan program Arsip Masuk Desa (AMD). Kunjungan SBY ke kantor ANRI di Jl Ampera Raya No 7 Cilandak Timur, Jakarta Selatan, Senin (31/8), merupakan kunjungan pertama oleh presiden.

Diorama sejarah perjalanan bangsa merupakan pengungkapan proses dinamika bangsa dari masa ke masa yang ditampilkan melalui perpaduan arsip, seni, dan teknologi. “Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa dibangun pada gedung seluas 750 M2 dan dibagi dalam delapan hall. Sebelum pintu masuk Diorama terukir wajah enam presiden RI, yaitu Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, Presiden BJ  Habibie, Presiden KH Abdurahman Wahid, Presiden Megawati Soekarnoputri dan Presiden SBY. Semua Presiden tersenyum dan kami beri judul Senyummu Indonesiaku,” ujar Kepala ANRI, Djoko Utomo.
Menurut dia, dibangunnya Diorama itu untuk membangkitkan ikatan emosional anak bangsa terhadap tanah air sejak usia dini. “Program Arsip Masuk Desa dibuat karena desa merupakan garda terdepan dalam pemberian layanan kepada masyarakat. Di samping itu, konsep demokrasi di Indonesia bermula dari desa, termasuk di dalamnya pemilihan kepala desa secara langsung," ujarnya.

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra), Aburizal Bakrie dalam sambutannya mengatakan, Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa merupakan dokumentasi se-abad kebangkitan bangsa yang periodisasinya diawali dengan masa kejayaan nusantara, masa kebangkitan, masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, menjaga keutuhan bangsa dan mengisi kemerdekaan hingga masa reformasi.
"Wahana ini menggambarkan proses dinamika bangsa dari Sabang hingga Merauke, khususnya dalam kehidupan bepolitik, ekonomi dan sosial budaya yang mengarah pada integrasi nasional dalam kerangka NKRI," ujar pria yang akrab disapa Ical. (JPNN)
Selanjutnya - Presiden Resmikan Diorama Sejarah

Suara Merdeka CyberNews