Sabtu, 30 Januari 2010

Cara Aman Berkendara Saat Musim Hujan

Dimusim hujan ini, walaupun tidak dapat diprediksi kapan turunnya namun akan sangat merepotkan bagi pengguna jalan raya jika tiba-tiba saat berkendara turun hujan lebat.

Di bawah ini ada beberapa tips bagi pengendara sepeda motor saat hujan:

1. Gunakanlah ban sepeda motor yang baik, dan tidak gundul permukaannya. Ban yang gundul dapat menyebabkan kecelakaan.

2. Turunkan tekanan angin ban. Saat hujan, tekanan udara pada ban sebaiknya dikurangi. Sebab, dengan kondisi jalanan yang berair, maka tidak seluruh permukaan ban akan menempel pada aspal. Kondisi ini bisa membahayakan, dan roda gampang selip.

Untuk menghindari hal itu, maka tekanan udara ban sebaiknya diturunkan 3-5 psi. Dengan sedikit dikempiskan, maka permukaan ban yang menempel pada aspal akan semakin banyak, dan itu berguna untuk mengurangi terjadinya slip.

3. Sediakan selalu mantel atau jas hujan pada jok sepeda motor. Jas hujan atau mantel bisa yang model celana, ataupun yang model terusan. Tapi di saat musim hujan, mantel yang praktis sebenarnya model celana.

Sedangkan yang terusan, bisa mengganggu pengendara lain, karena sering berkibar-kibar di belakang. Kondisi ini bisa menyebabkan si pengendara akan mengalami kecelakaan.

4. Gunakan helm standar. Dengan menggunakan helm standar yang memakai penutup depan, maka air hujan tidak akan mengganggu pemandangan si pengendara.

5. Oleskan tembakau pada kaca helm. Tembakau rokok bisa dipakai untuk menghilangkan kumpulan air dan embun pada kaca helm. Derasnya air hujan sering kali, menghalangi pemandangan pengendara sepeda motor.

Apalagi kalau helm yang dipakai hanya helm biasa dan full face, maka hawa di dalam helm menjadi berubah dan itu menyebabkan kaca helm berembun. Dengan menaburkan sedikit tembakau rokok pada permukaan kaca helm, lalu kemudian dibersihkan, maka dijamin air tidak akan mengumpul pada satu tempat dan embun juga akan hilang.

6. Hidupkan lampu depan saat berkendaraan di musim hujan. Hal ini untuk menunjukkan kepada pengendara lain khususnya dari arah yang berlawanan agar tidak mengambil jalur lain dan tetap berada pada jalurnya. Selain itu, dengan dihidupkannya lampu depan, maka hal itu akan membantu pengemudi lain untuk selalu waspada. 
Selanjutnya - Cara Aman Berkendara Saat Musim Hujan

Kapolri , keberhasilan Polda Metro

Kapolri Jendral Polisi Bambang Hendarso Danuri melalui Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Condro Kirono memberikan apresiasi atas demo 100 hari SBY-Boediono yang berlangsung aman. Apresiasi tersebut disampaikan saat apel di lapangan Lalu Lintas Polda Metro Jaya Sabtu 30 Januari 2010.
Kapolri direncanakan akan mengucapkan rasa terima kasih secara langsung  pada saat apel pagi di Polda Metro Jaya Senin 1 Februari 2010 mendatang.
"Kebanggaan kita semua manakala ketika tugas terkena panas dan hujan, namun hasil kita dihargai oleh pimpinan maupun masyarakat," ungkap Dirlantas.

Selanjutnya - Kapolri , keberhasilan Polda Metro

Kamis, 28 Januari 2010

Ketanggungan-Pejagan Titik Rawan Macet

Suara Merdeka - Jalur Ketanggungan-Pejagan kini dikhawatirkan menjadi titik yang rawan kemacetan menyusul pengoperasian jalan tol Kanci-Pejagan.
 Sebab, di jalur Ketanggunan- Pejagan yang menjadi akses keluar tol itu masih ditemukan beberapa masalah.

Selain terkait pengaturan di simpang tiga Pejagan, ruas jalan yang ada juga belum memadai.

”Jalur Ketanggungan-Pejagan ini rawan macet  ketika terjadi peningkatan jumlah kendaraan dari tol. Ini yang sedang kami upayakan untuk ditangani,” ujar Kasat Lantas Polres Brebes AKP Matrius SIK, kemarin.

Dia mengatakan, dibukanya tol Kanci-Pejagan akan menyebabkan terjadinya peningkatan volume arus kendaraan di jalur Ketanggungan-Pejagan. Kondisi itu dapat memicu munculnya kemacetan di jalur tersebut, terutama, dari arah pintu tol menuju jalur pantura.

Apalagi, di simpang tiga Pejagan untuk menuju jalur pantura terdapat perlintasan kereta api (KA). “Di perlintasan itu, setiap hari melintas sebanyak 43 KA, dengan rata-rata setiap 30 menit terjadi penutupan palang pintu KA,” katanya.

Jalan Sempit

Faktor lain, terang dia, lebar jalan di jalur Keganggungan-Pejagan hanya 11 meter. Sarana infrastruktur juga perlu dilengkapi lagi. Sebab, trotoar jalan belum, ada sehingga rawan bagi pejalan kaki.”Ini yang kami khawatirkan memicu kemacetan dan perlu segera diambil tindakan penanganan,” tandasnya.

Dia mengungkapkan, rawan kemacetan juga dikhawatirkan terjadi di ruas antara pintu tol ke arah Ketanggugan menuju jalur selatan. Selain jalan masih relatif sempit,  kelas jalannya juga belum memadai.

 “Jalur itu  hanya memiliki kelas jalan IIB, sehingga truk gandeng tidak boleh melintas. Sementara kendaraan yang musuk tol muatannya tidak dibatasi,” ungkapnya.

Menurut Kasat Lantas, untuk mengantisipasi titik rawan macet itu infrastruktur jalan harus segera dilengkapi. Pihaknya juga terus melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk upaya penanggulangan kemacetan.

Misalnya saja dengan tetap mengutamakan jalur pantura bagi kendaraan-kendaran besar, sehingga arus bisa terbagi. Alternatif lain, berkoordinasi dengan pihak pengelola tol agar pintu tol di Ciledug (Cirebon) bisa segera difungsikan.

Bila terjadi kepadatan kendaraan di jalur Ketanggungan-Pejagan bisa diurai. “Cara terakhir, kami mungkin akan mengarahkan arus kendaraan melalui jalur alternatif Ketanggungan-Jatibarang-Slawi bila terjadi kepadatan kendaraan,” ungkapnya.
Selanjutnya - Ketanggungan-Pejagan Titik Rawan Macet

Suami Istri Tewas Tenggelam di Sungai

Suara Merdeka - Dua warga Desa Tlagasana, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang, tewas tenggelam di sungai desa setempat, Rabu (27/1) pukul 06.30. Zaenuri (30) dan istrinya Maryati (27) ditemukan setelah satu jam pencariaan.

Informasi sejumlah saksi yang berhasil dihimpun Suara Merdeka, suami istri yang hendak berangkat memanen jagung itu, nekat menyeberangi sungai Tlagasana.

Padahal, sungai tersebut banjir setelah diguyur hujan pada malam harinya. Suami istri yang menyeberang dengan bergandeng tangan itu, tak kuasa menahan derasnya sungai. Keduanya terbawa derasnya dan hanyut.

”Saya sudah memperingatkan untuk tidak menyeberang, karena sungai sedang besar. Tapi, tetap saja nekat menyeberang. Kemungkinan, karena terpeleset sehingga tenggelam,” kata Muslani (40) saksi mata kejadiaan.

Minta Bantuan

Dia mengatakan, suami istri yang meninggalkan satu anak berusia dua tahun itu, terlihat melambaikan tangan untuk meminta bantuan. Namun, derasnya air sungai membuatnya tak kuasa untuk menolong. Selang beberapa detik, keduanya sudah tidak terlihat.

”Saya langsung berteriak minta tolong. Saya bersama warga menyelusuri sungai itu hingga sekitar 1 km,” terangnya.

Kepala Desa Tlagasana Siti Ariyah menjelaskan, suami istri itu berencana pergi ke lahan pertanian untuk panen jagung. Keduanya menyeberang dengan membawa keranjang untuk tempat jagung. Namun, karena bebatuan licin sehingga terpeleset dan tenggelam.

”Suami istri itu ditemukan pada pukul 07.30. Keadaan tubuhnya memar karena terbentuk bebatuan. Kami sudah membawa kedua mayat itu ke puskesmas untuk divisum. Kedua jenazah dikubur pada pukul 10.00,” katanya.

Koordinator Tim SAR Kabupaten Pemalang, Yupieter mengatakan, pihaknya tidak sempat melakukan pencarian. Sebab, informasi yang diterimanya terlambat. Rombongan tim SAR datang ke lokasi setelah kedua warga tersebut ditemukan.

”Kami menghimbau kepada warga untuk berhati-hati saat menyeberang. Sebab, curah hujan di wilayah Pemalang selatan sangat tinggi. Hal itu membuat aliran sungai meluap dan deras. Selain itu, warga juga harus mewaspadai bencana alam lainnya selama musim penghujan,” himbaunya.
Selanjutnya - Suami Istri Tewas Tenggelam di Sungai

Suara Merdeka CyberNews